Indonesia dan Tantangan Geotermal: Konflik Warga, Ruang Adat, dan Upaya Menjaga Reputasi Energi Hijau

Geotermal

SuaraDuniaNusantara.net — Upaya Indonesia memimpin transisi energi di kawasan menghadapi tantangan di tingkat lokal. Investigasi dari Sumatera hingga Nusa Tenggara menunjukkan bahwa pengembangan panas bumi masih bersinggungan erat dengan isu keselamatan, ruang adat, dan kepercayaan publik.

Sorik Marapi: Isu Keselamatan yang Mendunia

Paparan gas H₂S di Sorik Marapi—lebih dari seratus warga terdampak menurut AKBP Sahat M. Hasibuan (16/3/2024)—mendapat perhatian berbagai organisasi lingkungan internasional.

CEO KS Orka, Þórður Halldórsson, memastikan perusahaan mengikuti standar global, namun warga seperti M. Arif Lubis tetap meminta perlindungan lebih kuat.

Dieng, Ciremai, Bedugul: Ruang Masyarakat dalam Agenda Energi

Kasus Dieng menyoroti pentingnya komunikasi publik.

Ciremai menjadi contoh bagaimana aspirasi warga dapat menghentikan proyek raksasa.

Pada Bedugul, nilai budaya dan spiritual Bali menjadi rujukan dalam dialog energi kawasan.

Flores–Lembata dan Respons Komunitas Adat

Lumpur panas Mataloko dan konflik lahan di Wae Sano memperlihatkan dinamika antara negara, investor, dan komunitas adat.

PP Muhammadiyah melalui Prof. Chalid Muhammad (8/11/2025) menyebut intimidasi warga sebagai isu HAM.

Baca Juga :  Kasus John Field di Bea Cukai Soroti Integritas Perdagangan Indonesia

Direktur WALHI NTT Umbu Wulang (9/5/2025) menegaskan pentingnya persetujuan warga.

Tata Kelola dan Reputasi Indonesia

Eksplorasi di kawasan konservasi seperti Gede Pangrango dan Lawu menuntut kehati-hatian.

Prof. Ahmad Fadhillah (UGM) menilai bahwa kepercayaan publik menjadi fondasi legitimasi energi hijau Indonesia di mata internasional. ***

Related posts